04 May 2010

Hikmah Dari Si "Kunang-Kunang"

Bagi kita tinggal di kota besar yang penuh dengan gedung-gedung tinggi,mall dan nyaris tidak ada hutan alam tentu tidak akan menemukan hewan ini.Sedikit review dari saya tentang "Kunang-kunang" untuk dapat dibagikan kepada rekan-rekan.^_^

Kunang-kunang dapat kita temukan di rawa atau hutan yang basah.tersebar di seluruh dunia dengan banyak jenisnya (lebih kurang ada 2000 jenis).Ini menandakan bahwa hewan ini dapat SURVIVE dimana saja dan dalam kondisi apapun [saluuttt].Cahaya yang dihasilkan hewan ini akan terlihat jelas dalam keadaan gelap.Cahaya tersebut tidak mengandung ultraviolet maupun sinar inframerah berdasarkan panjang gelombangnya [510 sampai 670 nanometer].Cahaya tanpa panas itu dinamakan Luminescence. Luminescence pada salah satu bagian tubuhnya dihasilkan oleh suatu zat bernama Luciferin.Zat Luciferin ini bereaksi dengan zat-zat sebagai berikut : luciferin, luciferase, ATP, dan oksigen untuk mengeluarkan cahaya dan sedikit sekali yang menjadi panas.teknologi yang tidak tertandingi.Berbeda dengan lampu pijar yang hanya 10% mengubah energi listrik menjadi cahaya selebihnya menjadi energi panas.Bayangkan kalau kunang-kunang ini berkumpul dalam jumlah yang banyak ^_^


Siklus hidup dari kunang ini,setelah terjadi perkawinan,betina akan meletakkan telur-telurnya dibawah permukaan tanah. Telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva setelah 3-4 minggu dan akan terus diberi makan hingga musim panas berakhir. Setelah kira-kira 1-2 minggu dari akhir musim panas, larva akan berubah menjadi pupa, kemudian menjadi kunang-kunang dewasa.Perlu kita ketahui,hanya kunang-kunang jantan yang memiliki sayap dan dapat terbang, sedangkan sang betina akan melekat di dedaunan atau di tanah.

Cahaya yang dihasilkan oleh hewan ini memiliki banyak arti untuk hidupnya,diantaranya :
1.untuk saling mengenali atau untuk memberi tanda kawin

2.sebagai tanda peringatan maksudnya untuk memperingatkan antar-sesama jenisnya akan ada ancaman bahaya dari serangan serangga lain atau burung pemangsa agar tidak memakannya. Sebab, zat pemicu pembentukan cahaya kunang-kunang berasa pahit. Kalaupun ada serangga pemangsa yang nekad, mereka biasanya memakan tubuh kunang-kunang dari bagian kepala, terus hingga ke bagian belakang, kecuali bagian perut yang tidak dimakannya.